Senin, 27 Januari 2014

Bukan Penyerahan Diri


Kosong itu ketika sebuah wadah yang terisi penuh namun harus tumpah dan tak bersisa.

Tenang itu ketika kau dihujani tembakan namun seketika musuh menyerah dan mundur.

Mundur ???

Tidak !

Aku tak boleh seperti mereka.

Aku tak boleh mundur.

Meskipun satu langkah.

Bisa saja mereka menembakku lagi.

Lalu apa yang harus aku lakukan ?

Aku tak punya senjata.

Aku hanya membawa diriku.

Nyata Tapi Tak Ada


Bagaimana bisa dibilang salah jika kebenaran yang sesungguhnya pun tak diketahui.

Bagaimana bisa menilai jika target pun tak terpegang.

Dan bagaimana bisa mengeluh jika kesempatan pun tak punya.

Ketika tak ada satupun yang menyentuh tangan apa yang bisa digenggam ?

Hanya udara, angin, dan debu yang tak punya apa.

Mereka banyak namun tak bisa kau genggam.

Mereka menempati ruang tapi tak terlihat.

Jatuh Cinta (II)


Terkadang manusia perlu lari dari masalah. Agar tak terlalu penuh dunia ini dengan orang – orang berotak miring.

Tak jarang dalam pelarian itu aku berkali – kali menangis. Sekedar melepas emosi rasaku. Tak selalu juga curahan terbuang di tempat yang sama.

Tempat yang nyaman untuk sekedar membasahi mata, tempat yang sejuk ketika hati dipenuhi nyala api, lalu tempat yang pantas untuk mendinginkan bara yang mulai padam, serta tempat indah tuk sekedar menatap kemudian.

Aku lebih suka di sini. Sudah tak hanya sekali aku menikmati pelarian ini. Tak perlu menyibukkan diri kemudian berfoya, cukup dan hanya perlu mengunjungi tempat ini. Entah di mana saja dan bersama siapa saja dan bahkan sendiri pun aku tak apa. 

Hanya berkunjung kataku. Membasahi mata, membebaskan api, memadamkan bara, alu menatap langit.

Langit di sini indah, seperti memiliki ilmu magis yang menarikku ke dalam lembutnya awan. Begitupun orang sekelilingku. Terkadang aku hanya diam dan bahagia memandang mereka dengan hiruk pikuknya. Aku tersenyum, seakan bebanku terbunuh di serang mereka dari kota ini, entah di sudut mana favoritku. Kurasa semua tak terkecuali.

Sering ku berlari ke sini. Terlalu banyak kenangan begitupun harapan yang kuucap di tempat ini. Biasanya diselingi rintikan entah hujan atau air mataku.

Sungguh terlalu berkesan. Tak salah jika semua orang mengagumi tempat ini hingga melabelkan daerah istimewa di depan namaya.

Dan Jogjakarta, aku jatuh cinta J

Jogjakarta, 20 Desember 2013
11.05 p.m
Tugu, Jogjakarta, 22 Oktober 2013