Selasa, 04 Februari 2014

Pengagum Malam


Aku mencintai malam
Dengan segala lekukan indahnya
Dengan dingin pelukan yang ia beri
Ia menyimpan perapian di sudut waktu yang tak tau arah
Bara itu menghangatkan namun tak sekali mendinginkan

Aku mengagumi malam
Dengan hamparan luas permata yang berpendar
Dengan bohlam yang menyala di tiap sisi

Aku lebih mencintai malam
Di saat yang lain menyanjung siang

“Tak ada matahari di kala malam. Mataharilah yang menerangi bumi” ujar pengagum siang.

“Siapa bilang matahari tak muncul ? Dia tetap ada, namun ia terlalu malu untuk menampakkan diri. Dia hanya mampu membiaskan cahayanya lewat bulan. Ia menpercayakan segalanya kepada bulan” sanggahku.

Itu juga alasanku mencintai malam
Meski kecil, bulanlah yang bertanggung jawab kepada kami, manusia bumi yang hanya sebesar debu berterbangan.

“Malam tak seterang siang, malam tetap gelap” pasukan siang tetap saja mencela.

“Apa kau bisa menyalakan lampion di siang hari ? Itulah guna gelap yang malam punya. Agar aku yang tak bahagia ini tersenyum melihat remang lampion”

“Tapi malam tetap gelap. Hitam. Tidak cerah seperti siang”

“Gelap ? Hitam ? kamu hanya perlu menyulut kembang api agar berwarna. Justru lebih indah bukan ? mengembangkan senyum untuk semua. Membuat anak kecil bersorak mengagumi coraknya”.

“Tapi malam tetap gelap, masih saja menakutkan”

“Ya, malam memang masih gelap. Terkadang menggalaukan. Tapi di ujung malam sana, akan ada asa ketika matahari tak lagi malu dalam bersembunyi. Ketika bulan telah usai menjalankan tugasnya, perlahan kehangatan akan menggantikan kedinginan. Dan harapan memudarkan kerisauan. Cahaya di ujung malam itu semakin dekat mengembangkan senyum suka cita. Itulah yang kamu sebut pagi”

Malam hanya sebuah fase
Perjalanan menuju kemenangan
Malam itu gelap
Gelap yang merintis terang

Aku mencintai malam
Dengan segala rahasia yang ia pendam

 Night from Weh Island-Taken from Jalan-Jalan Men Eps Pulau Weh


Good Morning Moko - Taken from Jalan - Jalan Men Eps Bandung