Sabtu, 23 April 2016

I'm (not) a girl

"Eh, Song Hye Gyo itu umurnya udah 30 tahun lebih lho tapi masih aja keliatan 20an ya. Seneng banget wajahnya bersih mulus" , saya yakin itu yang sering dikatakan wanita saat ini mengingat menjamurnya Drama Korea Descendants of The Sun.

Terkadang dianggap lebih muda dari usia sebenarnya adalah sebuah kebanggaan karena berarti wajahnya masih mulus tak banyak keriput seperti kebanyakan orang dewasa.

Masih terngiang perkataan pak satpam ketika baru saja satu langkah menginjak toko pagi tadi

"Dek, tasnya dititipin dulu"

Betapa mangkelnya saya yg merasa (sebenarnya) sudah tak pantas lagi dipanggil 'Dek' . Saya hanya bisa tertawa getir dan bergumam, 'saya sudah lulus SMA, Pak' . Rasa kecewa itu akhirnya teralihkan dengan begitu banyaknya pilihan barang yg ditawarkan di toko. Memilah satu demi satu, rak demi rak, sampai ke detil aksesorisnya. Setelah menggenggam beberapa barang yg dirasa perlu untuk dibeli pergilah saya menuju kasir.

"Sudah diteliti mbak barangnya?" , tanya Mbak kasir yg kemudian menulis di kertas nota.
  
"Sudah mbak, sudah diteliti, kok "

"Ini saja yang dibeli? Ada member card, Mbak?"

"Oh, belum punya mbak." jawab saya yg memang belum punya kartu anggota di toko tersebut dan karena saya pun belum pernah belanja lebih dari 200 ribu sih.

"Oh, kalau gitu kartu mahasiswa nya ada ?"

Jlek, saya hanya bisa menelan ludah, tersenyum lalu berkata "Sudah tidak jadi mahasiswa, Mbak" .

Kemudian mbak kasir disebelahnya tersenyum dg wajah heran.

Lagi lagi dianggap masih sekolah. Walaupun sudah berkali kali dipanggil 'dek' atau dikira masih SMA tapi kali ini dalam waktu kurang dari 2 jam sudah 2 orang yang mengira saya masih kuliah.

Menanyakan kartu mahasiswa kepada pelanggan sebenarnya tidak ada salahnya. Mungkin itu sudah menjadi peraturan dasar yang harus dilakukan kasir. Ini hanya perasaan saya yang kecewa atau sedih ketika banyak yang menganggap 'saya masih kecil'.

Saya juga ingin diperlakukan sesuai umur saya, sebagai wanita dalam fase dewasa muda.

I'm not a girl, I'm a woman.

Jumat, 12 Februari 2016

Aku lulus !!

Aku lulus. Aku udah sarjana. Aku (harus) udah bisa cari uang sendiri. Aku (harus) tidak merepotkan orang tua. Aku akan nikah.

Bacalah kalimat terakhir dengan intonasi yang merendah. Dari notasi kelima menuju notasi kesatu. Turunkan nada suaramu. Karena kalimat terakhir ada di urutan paliiiiiiiing bawah di deretan kemampuanku untuk mewujudkan. Kemampuan untuk mewujudkan, bukan keinginan. Ingat.

Jika aku harus merendahkan suara di kalimat terakhir, tapi tidak untuk kalimat pertama. Suaraku meninggi, bergetar, dan aku merinding. Terlalu banyak beban yg tersirat dari kalimat pertama. Kelulusan bukanlah akhir dari penderitaan, tetapi justru menjadi awal perjuangan.

Beban untuk mandiri, beban untuk selalu membahagiakan keluarga, beban menanggung sendiri apa yang sudah dan akan dilakukan. Kali ini aku tidak bisa menganggap ini sebagai tugas yg positif. Ini beban yang tak jarang membuatku harus menahan tangis.

Perjuangan itu butuh pengorbanan. Sedangkan pengorbanan yang kurelakan adalah perasaan. Tak sulit bagiku melakukan pekerjaan saat ini, karena memang inilah bidangku. Tapi yang sangat menggangguku adalah pandangan orang lain, pendapat mereka, cibiran, dan sikap yang seakan memojokkan.

Kenapa aku bilang 'seakan' ? Karena ini teori dari sudut pandangku.
Tak salah kan kita berspekulasi dengan teori sendiri ? Selama teori itu tidak memenuhi 100% otakku, kurasa itu masih wajar.

Apa yang harus aku lakukan setelah lulus ?
Apa master plan ku ?
Apa yang sudah kulakukan untuk mewujudkan master plan itu ?

Entahlah.

Aku tak mau terlalu berkhayal walaupun pepatah mengatakan 'bermimpilah setinggi langit'.
Aku mau jadi pendusta yang tak meyakini perkataan pepatah.
Tapi satu yang aku pegang.

I'm not a student anymore. I'm a learner.