Aku lulus. Aku udah sarjana. Aku (harus) udah bisa cari uang sendiri. Aku (harus) tidak merepotkan orang tua. Aku akan nikah.
Bacalah kalimat terakhir dengan intonasi yang merendah. Dari notasi kelima menuju notasi kesatu. Turunkan nada suaramu. Karena kalimat terakhir ada di urutan paliiiiiiiing bawah di deretan kemampuanku untuk mewujudkan. Kemampuan untuk mewujudkan, bukan keinginan. Ingat.
Jika aku harus merendahkan suara di kalimat terakhir, tapi tidak untuk kalimat pertama. Suaraku meninggi, bergetar, dan aku merinding. Terlalu banyak beban yg tersirat dari kalimat pertama. Kelulusan bukanlah akhir dari penderitaan, tetapi justru menjadi awal perjuangan.
Beban untuk mandiri, beban untuk selalu membahagiakan keluarga, beban menanggung sendiri apa yang sudah dan akan dilakukan. Kali ini aku tidak bisa menganggap ini sebagai tugas yg positif. Ini beban yang tak jarang membuatku harus menahan tangis.
Perjuangan itu butuh pengorbanan. Sedangkan pengorbanan yang kurelakan adalah perasaan. Tak sulit bagiku melakukan pekerjaan saat ini, karena memang inilah bidangku. Tapi yang sangat menggangguku adalah pandangan orang lain, pendapat mereka, cibiran, dan sikap yang seakan memojokkan.
Kenapa aku bilang 'seakan' ? Karena ini teori dari sudut pandangku.
Tak salah kan kita berspekulasi dengan teori sendiri ? Selama teori itu tidak memenuhi 100% otakku, kurasa itu masih wajar.
Apa yang harus aku lakukan setelah lulus ?
Apa master plan ku ?
Apa yang sudah kulakukan untuk mewujudkan master plan itu ?
Entahlah.
Aku tak mau terlalu berkhayal walaupun pepatah mengatakan 'bermimpilah setinggi langit'.
Aku mau jadi pendusta yang tak meyakini perkataan pepatah.
Tapi satu yang aku pegang.
I'm not a student anymore. I'm a learner.