Kamis, 14 Maret 2019

Menuju KITA

Pernah gk sih berpikiran kalau akhir tahun berburu diskon demi acara sakral . .

Terbayangkan sih tp gk nyangka bakal secepet ini. Awal tahun 2018 masih sangat bimbang dg yg namanya perasaan. Masih belum tau ujungnya seperti apa. Bulan kelima, alhamdulillah semua jelas tujuannya, Apa, siapa, kapan. Tentang bagaimana, kami bicarakan bersama.

Apa ?
Tentu saja, ihwal pernikahan. Siapa orang yg tidak memikirkan tentang pernikahan ? Apalagi dg usia yg semakin mendekati 27. Ada apa dg 27 ? Bukan angka khusus sebenarnya, hanya saja usia 27 adalah usia di mana perempuan merasa dirinya tidak muda lagi. Pasti akan ada rasa khawatir, walaupun seharusnya berserah kepada takdir. Dan akhirnya, di bulan kelima tahun ini (baca : tahun 2018), aku mulai memikirkan yg kata orang "pernikahan".

Dengan Siapa ?
Tak pernah sedikitpun terbayangkan bahwa aku akhirnya berhenti pada sosok yg belum genap setahun ku kenal. Bahkan untuk berbincang saja kita belum pernah. Ahh, sepertinya ku harus membuat episode khusus untuk membahas pertemuan kami yg cukup . Ya, episode selanjutnya. Yg pasti pertemuan kami unik, pertemuan kami takluput dari bantuan orang dan tentu atas kehendak Allah. Laki - laki yg membuatku akhirnya takluk adalah sosok yg sangat dicintai murid-murid, sangat dibanggakan teman-temannya. Alhamdulillah, aku sudah memutuskan akan bersama siapa kumenghabiskan waktu di masa depan.

Kapan ?
Sejujurnya, beberapa tahun lalu, aku punya patokan kapan harus menikah tapi kemudian luluh tergerus waktu.

Sudahlah, kapanpun itu yg pasti ada calon dulu.

Seperti itu yg akhirnya kupegang. Tapi kemudian, tahun 2018 semua berubah, aku jadi punya asa kepada seseorang yg datang membawa nyali. Yg seketika menemui ibuk ketika kuminta datang. Yg dg berani menetapkan tanggal untuk segera mengkhitbah.

"Tahun depan, ya, tahun depan insya Allah kita menikah"

Itu yg dia ucapkan padaku kala itu. Bukannya tertawa, aku justru menangis. Menangis karena sosokmu, yg begitu gigih dan tertata menemui keluargaku.

Kapan?
Tulisan ini harusnya diunggah bulan Desember 2018 ketika rencana Pernikahan itu mulai memenuhi setiap obrolan kami. Tapi saat itu kami tak pernah tau kapan bulan pastinya hingga pada tanggal 14 Januari, kita putuskan untuk bersatu di bulan keempat. Lalu hari ini, aku memikirkan apa yg akan kurasakan tepat 4 pekan setelah ini. Kamis 4 pekan lagi mungkin aku tak bisa tidur, mungkin aku akan merasakan bahagia tapi juga ketakutan yg luar biasa. Ahh bukan takut, apa yg harus kutakutkan jika ada kamu hari esok yg akan menemaniku? Aku hanya kuatir, bisakah aku mendampingimu berfoto dg gaun serasi dan memegang buket bunga tanpa rasa canggung?

Lalu, tentang bagaimana ?
Sungguh, kita berproses selalu dg kata bagaimana. Bagaimana kita menyikapi omongan orang, bagaimana kita menyatukan dua hati dan pikiran, bagaimana kita saling memahami dan menghormati. Bagaimana kita bisa bertemu, berbagi impian, kemudian berbagi suka dan duka menghabiskan senja?

Aku masih menanti KITA yg akan bersatu bulan depan.

Bismillah.

Created : 28 Desember 2018
Updated : 14 Maret 2019