"Sudah lama aku tak pernah
menyentuh buku itu lagi" , ucap gadis itu seraya memandang buku bersampul
pink yang penuh makna. buku itu sangat berharga baginya, berisikan kenangan -
kenangan indah, sedih , dan kenangan bersama ayah yang sangat ia cintai. Dengan
tangan gemetar, gadis itu mengambil pena dan mulai menorehkan rangkaian kata
yang tak pernah bisa berhenti dari jarinya. Kalimatnya sederhana, namun
ditulisnya dengan penuh emosi dan tak disangka air mata itu pun jatuh membasahi
halaman buku. Sambil terisak Ia berkata lirih, "Ayah, seandainya ayah ada
disini aku pasti tak akan merasa sepi. Aku pasti tak merasa sedih karena
masalah ini karena ayah selalu mendampingiku dan menjadi orang terdepan ketika
anakmu ini tersakiti."
Dengan penuh air mata, gadis itu pun
melanjutkan tulisannya. Renungan akan masa lalu tak membuatnya berhenti tuk
menulis, justru ia semakin menggebu untuk mencurahkan apa yang ia rasa. Hanya
itu yang bisa ia lakukan selain berserah pada ALLAH atas cobaan yang
menghampirinya. " Ya ALLAH jika memang ini caramu untuk menguatkan hatiku,
aku hanya bisa berserah padaMU. Mungkin usahaku yang belum sempurna dan Engkau
yang masih terlalu sayang padaku hingga kau beri nikmat ini agar ku sadar akan
tanganMu."
Angannya kembali saat mengingat
Ayahnya marah besar ketika ia tersakiti hingga terkulai. Hanya tangisan yang
gadis itu lakukan sepanjang malam itu. Ia merasa sangat merindukan sosok ayah ,
sosok orang yang begitu menyayanginya. Kini ia merasa tersudut oleh perlakuan
yang membuat hatinya kacau. Ia berusaha menenangkan hati yang telah terluka
oleh sesosok anak Adam, dan mulai bercerita pada Ayahnya. "Apakah
kejujuran itu sangat mahal sehingga kau begitu susah untuk katakan sebuah
fakta??" gumamnya dalam lamunan. "Takpantaskah aku kau hargai? Aku
hanya ingin pengertianmu, pikirkan hati ini, bukan hanya kemauanmu yang ingin
memiliki semua. Aku juga masih punya hati. Aku hanya orang biasa yang bisa
marah jika kau perlakukanku begitu meski rasa itu memang ada." umpatnya
masih dalam lamun.
Ia tak menyadari ketika halaman itu
telah basah oleh air matanya. Ia hanya bisa menunduk dan memuntahkan air mata
yang selama ini terbendung dalam hati. Ia terisak di keheningan malam.
Bercerita lewat tinta dan air mata. Tak ada saksi mata yang melihatnya, namun
Ia masih meyakini bahwa ALLAH masih mendengarnya di kesunyian malam. Masih
memeluknya dengan kebesaran tanganNYA. ALLAH masih menyelimutinya dengan
malaikat - malaikat yang menghangatkan malam yang dingin.
Gadis itu masih
terisak di akhir malam dan akhirnya terlelap dalam tangis air mata. Dalam
tidurnya Ia masih tersenyum memandang sosok Ayah di hadapannya. Dalam tidurnya,
tiba - tiba ia bergeming, " Ayah,
akhirnya aku berjumpa dengan Ayah. Aku sayang dia Ayah. Kenapa dia jahat
seperti itu Ayah? Kenapa ia berbohong padaku Yah? Ayah, aku sayang dia" .
