Minggu, 24 Februari 2013

Ayah, aku sayang dia


"Sudah lama aku tak pernah menyentuh buku itu lagi" , ucap gadis itu seraya memandang buku bersampul pink yang penuh makna. buku itu sangat berharga baginya, berisikan kenangan - kenangan indah, sedih , dan kenangan bersama ayah yang sangat ia cintai. Dengan tangan gemetar, gadis itu mengambil pena dan mulai menorehkan rangkaian kata yang tak pernah bisa berhenti dari jarinya. Kalimatnya sederhana, namun ditulisnya dengan penuh emosi dan tak disangka air mata itu pun jatuh membasahi halaman buku. Sambil terisak Ia berkata lirih, "Ayah, seandainya ayah ada disini aku pasti tak akan merasa sepi. Aku pasti tak merasa sedih karena masalah ini karena ayah selalu mendampingiku dan menjadi orang terdepan ketika anakmu ini tersakiti."


Dengan penuh air mata, gadis itu pun melanjutkan tulisannya. Renungan akan masa lalu tak membuatnya berhenti tuk menulis, justru ia semakin menggebu untuk mencurahkan apa yang ia rasa. Hanya itu yang bisa ia lakukan selain berserah pada ALLAH atas cobaan yang menghampirinya. " Ya ALLAH jika memang ini caramu untuk menguatkan hatiku, aku hanya bisa berserah padaMU. Mungkin usahaku yang belum sempurna dan Engkau yang masih terlalu sayang padaku hingga kau beri nikmat ini agar ku sadar akan tanganMu."

Angannya kembali saat mengingat Ayahnya marah besar ketika ia tersakiti hingga terkulai. Hanya tangisan yang gadis itu lakukan sepanjang malam itu. Ia merasa sangat merindukan sosok ayah , sosok orang yang begitu menyayanginya. Kini ia merasa tersudut oleh perlakuan yang membuat hatinya kacau. Ia berusaha menenangkan hati yang telah terluka oleh sesosok anak Adam, dan mulai bercerita pada Ayahnya. "Apakah kejujuran itu sangat mahal sehingga kau begitu susah untuk katakan sebuah fakta??" gumamnya dalam lamunan. "Takpantaskah aku kau hargai? Aku hanya ingin pengertianmu, pikirkan hati ini, bukan hanya kemauanmu yang ingin memiliki semua. Aku juga masih punya hati. Aku hanya orang biasa yang bisa marah jika kau perlakukanku begitu meski rasa itu memang ada." umpatnya masih dalam lamun.

Ia tak menyadari ketika halaman itu telah basah oleh air matanya. Ia hanya bisa menunduk dan memuntahkan air mata yang selama ini terbendung dalam hati. Ia terisak di keheningan malam. Bercerita lewat tinta dan air mata. Tak ada saksi mata yang melihatnya, namun Ia masih meyakini bahwa ALLAH masih mendengarnya di kesunyian malam. Masih memeluknya dengan kebesaran tanganNYA. ALLAH masih menyelimutinya dengan malaikat - malaikat yang menghangatkan malam yang dingin. 

Gadis itu masih terisak di akhir malam dan akhirnya terlelap dalam tangis air mata. Dalam tidurnya Ia masih tersenyum memandang sosok Ayah di hadapannya. Dalam tidurnya, tiba - tiba ia bergeming,  " Ayah, akhirnya aku berjumpa dengan Ayah. Aku sayang dia Ayah. Kenapa dia jahat seperti itu Ayah? Kenapa ia berbohong padaku Yah? Ayah, aku sayang dia" .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar