Kamis, 26 Juli 2018

Dermaga di Jantung Kota

Ada yg bilang kalau di setiap tempat pasti punya cerita, di balik sebuah foto pasti ada peristiwa. Pun dg foto ini, fotonya tak beraturan, tak simetris, modelnya tak bergaya dg gemulai, mungkin yg motret juga sedang tak fokus.

Senja kala itu di dermaga Karimunjawa, aku berlari mengejar sang jingga. Telat. Sang surya telah mulai membenamkan diri dalam lautan air. Aku hanya mampu memotret ekornya, yg masih berkibas di antara jala nelayan. Aku agak kesal waktu itu, sudah datang jauh jauh, tapi tak kudapat foto silhuet bak foto model di sampul majalah. Aku pun kesal, kenapa aku tak bisa bergaya, sedangkan mereka yg ku potret dengan gemulai meliuk-liukkan tangan sampai silhuet nya nampak berbinar. Aku kesal, kenapa fotoku tak pernah sebagus ketika mereka sebagai obyek. Aku murung, aku hanya bisa memencet tombol shutter di hp ku tapi ia tak bisa mengunciku bahkan dg autofokusnya. Aku hanya bisa berdecak, setidaknya aku msih bisa melihat riak yg gemerlap bak permata berpendar. Decak kagum ku berhenti ketika lampu jalanan mulai menghanyutkan jingga, taklagi terlihat ekornya, semua lenyap, tergantikan cahaya putih cemerlang berjarak tak lebih dari 10 meter di kanan kiri setapak.

Senjaku lenyap, aku pun berjalan lunglai mencari surau. Sujud pertamaku di dalam surau yg jauh dari asalku. Setelah doa petang itu, kulangkahkan kaki kembali mencari hiburan di malam terakhirku di pulau ini. Sempat ku bimbang antara kembali meletakkan punggung atau memberi pijatan lembut kaki untuk mencari gemerlap. Ternyata kakiku masih ingin berjalan hingga sampai ku di jantung kota. Ahhh, aku ingat, ada manusia cerewet yg pasti menunggu buah tanganku. Mataku pun mulai membelalak menyisir pernik, berpindah lapak, merayu bapak penjaga gerai.

Kau tau tidak, sudah tak terhitung berapa banyak orang yg kutemui menyebutkan namamu, atau sekedar melaporkan posisimu, mengulang peristiwa tadi siang, mengingatkan tragedi bola kemarin sore, dan banyak yg menjual kata bahwa kau mencariku. Tapi aku acuh, aku sibuk memilih kerang mana yg pantas kupajang di meja ruang tamu rumahku, gambar mana yg bagus untuk dipakai anak usia 4 tahun, sampai ku melupakan cangkingan untuk ibuk.

Aku teringat ibuk, yg takmungkin kubelikan kaus apalagi gantungan kunci. Untuk apa ? Ibuk tak butuh itu. Tapi aku terkena rayuan penjaja kerupuk, katanya renyah, ebinya bisa dimasak bermacam menu. Aku teringat ibuk yg suka masak dan menyemil kerupuk. Tanganku mulai menjalar ke sana ke mari, tapi gerakannya mulai melemah ketika kudengar suara bapak bapak yg ada di belakangku dan berkata,

"Nah ini ketemu, ini loh Bu dicariin dari tadi" .

Aku terhenti, sudut mataku taksengaja mengarah pada sosokmu yg tentu saja membawa kamera, ciri khasmu, kan?

Bapak paruh baya tadi berucap lagi,

"Ini lho pak yg tadi dicariin, katanya sih mau moto njenengan buk".

Aku tersenyum, entah kenapa aku penasaran dg sosokmu yg sedari tadi terlihat gelisah. Tepat di arah barat laut 4 meter dari tempatku berdiri, kucoba mendongakkan kepala dan sepersekian detik cahaya blitz mu menyilaukanku. Ah, aku sempat melihat gerakanmu mengangkat kamera itu. Tanganmu terlihat ragu, pun dengan senyummu, kaku, atau deg-deg an ?

Berapa kali kau jepret aku ? Aku takyakin dg hasilnya karena jemarimu pun terlihat goyah memencet tombol bundar di kanan atas kotak itu. Kenapa ? Tak menyangka bertemu aku ? Tak usah begitu, aku pun tak pernah membayangkan berlenggok di depan penajaja terasi.

Ku lihat kau membuang muka, sedetik setelah kau menurunkan kameramu dan mengajak bapak tadi tuk kembali menyusuri pasar malam. Aku ? Masih takmengerti arti sudut bibirmu yang terlihat naik, dan ujung matamu yg terlihat melirik. Aku masih menata hati saat itu, mencoba memahami puzzle yg kau buat, ah, bukan kau sepenuhnya, tapi mereka. Rekan - rekan kita lah yg membantumu mengacak acak puzzle itu. Lantas, mau kau apakan ? Menyusun menjadi mozaik ? Dengan siapa ? Aku masih menerka, saat itu.

- 26 Juli 2018 -
Malam ini adalah beberapa pekan setelah peristiwa "pencurian foto" malam itu. Tetiba aku teringat, lalu kutuliskan. Bukankah katamu kita harus mengasah kebiasaan literasi ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar