Senin, 19 Mei 2014

Review Novel "Surat untuk Ruth"



Surat untuk Ruth

Judul : Surat untuk Ruth
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
April 2014


Saya bukan seorang penulis, juga bukan pembaca yang baik. Saya hanya akan memberikan review dari sudut pandang saya J

Sebuah novel berjudul Surat untuk Ruth yang ditulis Bernard batubara adalah pengembangan buku sebelumnya yang berjudul Milana. Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan seorang Ruth. Siapa Ruth ? Jika sudah membaca Milana pastilah kalian tahu siapa Ruth karena telah dijelaskan dalam buku sebelumnya ( Milana ). Tak jauh dari tema buku – buku Bara sebelumnya, novel ini masih bercerita tentang cinta. Berbekal 168 halaman Bara telah sukses menghipnotis pembaca larut dalam cerita hingga meneteskan air mata.

Yang menarik dari buku tersebut adalah penggambaran kejadian dan suasana. Point of view yang digunakan adalah orang pertama dengan kata ganti “aku”. Pembaca seakan tidak membaca novel, tetapi benar – benar membaca sebuah surat, sebuah memoar. Tidak banyak dialog yang ditampilkan justru narasi yang mendominasi. Tetapi, narasi itulah yang menjadi kelebihan dari novel – novel lain.

Saya akan memulai membahas tentang cerita. Surat ini ditulis oleh seorang bernama Are. Areno Adamar. Seorang pria yang bekerja di Yogyakarta dan memiliki hobi memotret. Kisah mereka diawali dari pertemuan singkat di dek kapal feri yang mengantarkan mereka dari Banyuwangi ke Jembrana. Are memegang kamera dan Ruth mendekap kanvas (dijelaskan dalam buku Milana). Pertemuan singkat namun itu adalah awal dari perjalanan mereka. Ruth dan Are adalah sepasang kekasih yang mencintai dan saat itu pula tidak bisa saling memiliki. Tertulis jelas dalam buku halaman 107. 

“Ironis, Ruth. Kamu berkata ‘Aku sayang kamu’ tepat disaat kamu harus meninggalkanku”. 

Ruth yang dijodohkan oleh ibunya dengan seorang yang tidak dia cintai akhirnya memutuskan melarikan diri tepat di hari pernikahannya. Namun ketika itu pula terjadi kecelakaan feri yang ditumpangi Are dalam perjalanannya dari Bali ke Lombok. Kisah ini berakhir dengan memoar yang Are tulis tentang kisah cintanya. Cuplikan cerita yang tertera di bagian belakang buku benar – benar menjadi senjata yang ampuh untuk menggelitik pembaca.

Cerita yang diangkat memang masih seperti novel – novel yang lain tentang cinta yang tak bisa bersatu, terhalang oleh orang ketiga dan keluarga (perjodohan). Tapi oh tapi yang menjadi pembeda itu gaya bahasa nya, penyampaiannya, pemilihan katanya. Super duper bikin mewek deh kalo baca buku ini. Hehehe :p
Beberapa testimoni pembaca yang saya baca di tab mention penulisnya @benzbara_ mengungkapkan kalau banyak dari mereka yang menangis ketika membaca “surat” ini. Dan saya telah membuktikannya. Saya pun meneteskan air mata bahkan dari bab 9 dan puncaknya di halaman 160. L Bagi saya ending cerita ini gak bisa tertebak, surprise banget lah pokoknya.

Bara sungguh pandai menjelaskan tiap detil kejadian.  Bukan Bara namanya jika tidak memasukkan unsur Yogyakarta. Novel ini pun menampilkan Yogyakarta walau hanya dalam bagian awal. Setting cerita lebih banyak di Bali kemudian Malang dan Surabaya. Bahkan Bali menjadi setting utama cerita Are dan Ruth. Di sana mereka memulai percakapan panjang dan di sana pula mereka harus mengakhiri hubungan mereka.

Untuk pembaca yang jeli, ada satu yang janggal dalam novel ini. Bagaimana bisa seorang Are yang sudah meninggal dapat membuat sebuah memoar yang menceritakan kisah hidupnya sampai bahkan setelah dia meninggal.

Apa saja yang mereka lakukan di Bali ? Bagaimana perjalanan kisah Ruth dan Are ? Bagaimana akhir cinta mereka ? Silahkan baca bukunya. Kalau saya ungkapkan semua gak akan seru dong. Bagi saya membaca sendiri jauh lebih menyenangkan dari pada langsung mengetahui ceritanya. Jadilah saya hanya sedikit menulis review ini, hahahahha *padahal males* :v . Bara, I give you 4 stars. :D

Beberapa kalimat dalam novel yang saya suka adalah :

“Pada satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang”.

“Di saat kita tidak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan”.

“Pemandangan potongan langit biru segar yang terang dan bersih yang terhalau ranting – ranting kurus dari pohon tua. Aku melihatnya seperti keindahan yang bersanding dengan simbol waktu yang diwakili oleh ranting – ranting kering pohon tua itu. Tanda bahwa hanya dengan bersabar, pada akhirnya, kita akan menemukan keindahan. Keindahan yang terhalang oleh waktu”.

“Kesempurnaan terbentuk dari hal – hal yang tidak sempurna”.

“Tidak ada korelasi positif anatara durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan tersebut berakhir”.

Satu lagi yag saya suka, senja, saya suka penggambaran bara tentang senja. Karena saya pribadi juga menyukai senja. Senja itu sementara.

Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara.
NOVELMU KEREEEEEEN !!!!!!!

Bang Bara I love You. Hahahhaha *ditabok pacar* :p

Surat untuk Ruth. Selamat membaca. Selamat kehilangan.

Saya ingin berkenalan dengan Ruth, Ruthefia Milana, perempuan Vixtorinox yang penuh misteri.


Nb :
Sekedar info saya membeli buku ini, bukan, lebih tepatnya dibelikan dan yang membelikan itu beli di Toga Mas Gejayan Yogyakarta *halah ribet tho faay*. Kabar baiknya stok di sana masih banyak sekali jadi yang belom punya silahkan langsung serbu. Sebelumnya tepat tanggal 14 April 2014 (hari peluncuran novel) saya sudah keliling Toga Mas dan Gramedia di Yogyakarta tapi msih belum ada. Beberapa hari setelah itu saya cari di Gunung Agung Paragon Mall Semarang dan masih saja tidak ada. Apalagi di kota asalku Pekalongan, pasti lah tidak ada L




Tidak ada komentar:

Posting Komentar