![]() |
| Surat untuk Ruth |
Judul : Surat untuk Ruth
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
April 2014
Saya bukan seorang penulis, juga
bukan pembaca yang baik. Saya hanya akan memberikan review dari sudut pandang saya J
Sebuah novel berjudul Surat untuk
Ruth yang ditulis Bernard batubara adalah pengembangan buku sebelumnya yang berjudul
Milana. Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan seorang Ruth. Siapa Ruth ?
Jika sudah membaca Milana pastilah kalian tahu siapa Ruth karena telah
dijelaskan dalam buku sebelumnya ( Milana ). Tak jauh dari tema buku – buku Bara
sebelumnya, novel ini masih bercerita tentang cinta. Berbekal 168 halaman Bara
telah sukses menghipnotis pembaca larut dalam cerita hingga meneteskan air
mata.
Yang menarik dari buku tersebut
adalah penggambaran kejadian dan suasana. Point
of view yang digunakan adalah orang pertama dengan kata ganti “aku”. Pembaca
seakan tidak membaca novel, tetapi benar – benar membaca sebuah surat, sebuah
memoar. Tidak banyak dialog yang ditampilkan justru narasi yang mendominasi. Tetapi,
narasi itulah yang menjadi kelebihan dari novel – novel lain.
Saya akan memulai membahas tentang
cerita. Surat ini ditulis oleh seorang bernama Are. Areno Adamar. Seorang pria
yang bekerja di Yogyakarta dan memiliki hobi memotret. Kisah mereka diawali
dari pertemuan singkat di dek kapal feri yang mengantarkan mereka dari
Banyuwangi ke Jembrana. Are memegang kamera dan Ruth mendekap kanvas (dijelaskan
dalam buku Milana). Pertemuan singkat namun itu adalah awal dari perjalanan
mereka. Ruth dan Are adalah sepasang kekasih yang mencintai dan saat itu pula
tidak bisa saling memiliki. Tertulis jelas dalam buku halaman 107.
“Ironis, Ruth. Kamu berkata ‘Aku sayang kamu’ tepat disaat kamu harus meninggalkanku”.
Ruth yang dijodohkan oleh ibunya dengan seorang yang tidak dia cintai akhirnya memutuskan melarikan diri tepat di hari pernikahannya. Namun ketika itu pula terjadi kecelakaan feri yang ditumpangi Are dalam perjalanannya dari Bali ke Lombok. Kisah ini berakhir dengan memoar yang Are tulis tentang kisah cintanya. Cuplikan cerita yang tertera di bagian belakang buku benar – benar menjadi senjata yang ampuh untuk menggelitik pembaca.
“Ironis, Ruth. Kamu berkata ‘Aku sayang kamu’ tepat disaat kamu harus meninggalkanku”.
Ruth yang dijodohkan oleh ibunya dengan seorang yang tidak dia cintai akhirnya memutuskan melarikan diri tepat di hari pernikahannya. Namun ketika itu pula terjadi kecelakaan feri yang ditumpangi Are dalam perjalanannya dari Bali ke Lombok. Kisah ini berakhir dengan memoar yang Are tulis tentang kisah cintanya. Cuplikan cerita yang tertera di bagian belakang buku benar – benar menjadi senjata yang ampuh untuk menggelitik pembaca.
Cerita yang diangkat memang masih
seperti novel – novel yang lain tentang cinta yang tak bisa bersatu, terhalang
oleh orang ketiga dan keluarga (perjodohan). Tapi oh tapi yang menjadi pembeda
itu gaya bahasa nya, penyampaiannya, pemilihan katanya. Super duper bikin mewek
deh kalo baca buku ini. Hehehe :p
Beberapa testimoni pembaca yang saya
baca di tab mention penulisnya @benzbara_
mengungkapkan kalau banyak dari mereka yang menangis ketika membaca “surat”
ini. Dan saya telah membuktikannya. Saya pun meneteskan air mata bahkan dari
bab 9 dan puncaknya di halaman 160. L Bagi saya
ending cerita ini gak bisa tertebak, surprise banget lah pokoknya.
Bara sungguh pandai menjelaskan tiap
detil kejadian. Bukan Bara namanya jika
tidak memasukkan unsur Yogyakarta. Novel ini pun menampilkan Yogyakarta walau
hanya dalam bagian awal. Setting cerita
lebih banyak di Bali kemudian Malang dan Surabaya. Bahkan Bali menjadi setting utama cerita Are dan Ruth. Di sana
mereka memulai percakapan panjang dan di sana pula mereka harus mengakhiri
hubungan mereka.
Untuk pembaca yang jeli, ada satu yang janggal dalam novel ini. Bagaimana bisa seorang Are yang sudah meninggal dapat membuat sebuah memoar yang menceritakan kisah hidupnya sampai bahkan setelah dia meninggal.
Untuk pembaca yang jeli, ada satu yang janggal dalam novel ini. Bagaimana bisa seorang Are yang sudah meninggal dapat membuat sebuah memoar yang menceritakan kisah hidupnya sampai bahkan setelah dia meninggal.
Apa saja yang mereka lakukan di
Bali ? Bagaimana perjalanan kisah Ruth dan Are ? Bagaimana akhir cinta mereka ?
Silahkan baca bukunya. Kalau saya ungkapkan semua gak akan seru dong. Bagi saya
membaca sendiri jauh lebih menyenangkan dari pada langsung mengetahui
ceritanya. Jadilah saya hanya sedikit menulis review ini, hahahahha *padahal
males* :v . Bara, I give you 4 stars. :D
Beberapa kalimat dalam novel yang
saya suka adalah :
“Pada satu titik, cinta akan habis
tergerus, dan yang tersisa adalah sayang”.
“Di saat kita tidak lagi mencari,
di situlah kita akan menemukan”.
“Pemandangan potongan langit biru
segar yang terang dan bersih yang terhalau ranting – ranting kurus dari pohon
tua. Aku melihatnya seperti keindahan yang bersanding dengan simbol waktu yang
diwakili oleh ranting – ranting kering pohon tua itu. Tanda bahwa hanya dengan
bersabar, pada akhirnya, kita akan menemukan keindahan. Keindahan yang
terhalang oleh waktu”.
“Kesempurnaan terbentuk dari hal –
hal yang tidak sempurna”.
“Tidak ada korelasi positif anatara
durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan
dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan tersebut berakhir”.
Satu lagi yag saya suka, senja,
saya suka penggambaran bara tentang senja. Karena saya pribadi juga menyukai
senja. Senja itu sementara.
Bernard Batubara. Bernard Batubara.
Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard
Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara.
NOVELMU KEREEEEEEN !!!!!!!
Bang Bara I love You. Hahahhaha *ditabok pacar* :p
Surat untuk Ruth. Selamat membaca. Selamat
kehilangan.
Saya ingin berkenalan dengan Ruth,
Ruthefia Milana, perempuan Vixtorinox yang penuh misteri.
Nb :
Sekedar info saya membeli buku ini,
bukan, lebih tepatnya dibelikan dan yang membelikan itu beli di Toga Mas
Gejayan Yogyakarta *halah ribet tho faay*. Kabar baiknya stok di sana masih
banyak sekali jadi yang belom punya silahkan langsung serbu. Sebelumnya tepat
tanggal 14 April 2014 (hari peluncuran novel) saya sudah keliling Toga Mas dan
Gramedia di Yogyakarta tapi msih belum ada. Beberapa hari setelah itu saya cari
di Gunung Agung Paragon Mall Semarang dan masih saja tidak ada. Apalagi di kota
asalku Pekalongan, pasti lah tidak ada L

Tidak ada komentar:
Posting Komentar