Kali ini saya
ingin mengangkat tema yang biasa tapi saya yakin sudah banyak yang pernah
mengalaminya. Ya... di-ISTIMEWA-kan dan meng-ISTIMEWA-kan. Manusia diciptakan
berdampingan satu dengan yang lainnya, saling membutuhkan, saling berinteraksi.
Harapannya pasti interaksi yang positif, simbiosis mutualisme kalau orang
bilang, tapi nyatanya simbiosis tak hanya mutualisme, masih ada komensatisme
dan parasitisme. Parasitisme, simbiosis yang hanya menguntungkan satu pihak. Egois
memang simbiosis macam ini, tapi ini nyata memang ada. Bahkan anehnya beberapa
takmenyadari bahwa mereka adalah korban interaksi semacam ini. Saya pun pernah
merasakannya.
Seseorang pernah
berkata kepada saya bahwa orang yang di-istimewakan ternyata tak balik
meng-istimewkan kita, itu sudah cerita lama katanya. Sudah terlalu banyak
cerita seperti itu. Klise. Saya bingung harus mulai dari mana, sedikit tentang
yang saya alami. Tak hanya sekali saya mengistimewakan orang, perempuan ataupun
laki-laki semua yang baik kepada saya pasti saya beri perhatian (bukan
perhatian sebagi pacar tentunya).
Contoh nyatanya,
ketika saya mempunyai teman dan kita klop, ketika dia membutuhkan bantuan saya
akan mengusahakan bagaimana caranya untuk membantunya. Tapi suatu ketika, saya
baru menyadari ternyata dia tak suka dengan saya bahkan dia lebih dekat atau
perhatian dengan orang yang saya pikir tak sepeduli saya. Tapi anehnya, ketika
saya beri dia bantuan, perhatian, ya dia terima-terima saja apa yang saya
kasih.
Kejadian lain,
ketika saya menganggap kita berteman dekat, di luar saya membanggakan mereka,
tapi ternyata mereka saling memberi kabar, curhat, hang-out tanpa saya. Saya seakan diacuhkan. Pernahkan kalian
mengalaimnya ? Satu lagi cerita yang saya yakin kalian sering mengalaminya. Ketika
kita menanyakan seuatu yang penting kepada seorang teman dan butuh jawaban
segera tapi dia tak merespon pertanyaan kita, padahal ketika dia bertanya atau
butuh bantuan kalian tak jarang mengusahakan menemani, bahkan membantu
menghibur dia. Lalu, kemana dia ketika kita butuh bantuan ? Lenyap. Ditelan bumi
mungkin.
Mencari tahu
kesalahan siapa ? Itu bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami. Susah. Tak ada
yang mengetahui bagian mana yang salah. Semua kembai ke sifat individu. Kalau memag
dasarnya baik, ya udah dia akan selalu berbuat baik. Tapi saya bukan orang yang
seperti itu, saya juga bisa marah, saya juga bisa merasa dimanfaatin, bayangin
aja, udah susah-susah bantuin tapi ternyata cuma zonk yang didapat. Beberapa orang bilang saya bodoh, terlalu baik,
terlalu berkorban untuk orang yang ternyata tak mau berkorban balik. Tapi saya
selalu mengibaratkan saya yang berada di posisi mereka, yang membutuhkan
bantuan, kalau tak ada yang membantu saya pasti kesulitan, saya butuh orang
lain, jadi lah saya membantu apa yang mereka butuhkan.
Sekali lagi,
semua kembali lagi ke masalah kesadaran. Saya tak menganggap saya orang yang
sempurna, saya pun masih punya salah. Karena itulah seharusnya kita saling
mengingatkan, saling membantu. Simbiosis mutualisme. Jadi, itulah
meng-ISTIMEWA-kan yang ternyata tak selamanya berbuah manis.
“There are some people who could hear you
speak a thousand words and still not understand you. And there are others who
will understand without you even speaking a word” –noname-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar