Minggu, 13 Juli 2014

istimewa


Kali ini saya ingin mengangkat tema yang biasa tapi saya yakin sudah banyak yang pernah mengalaminya. Ya... di-ISTIMEWA-kan dan meng-ISTIMEWA-kan. Manusia diciptakan berdampingan satu dengan yang lainnya, saling membutuhkan, saling berinteraksi. Harapannya pasti interaksi yang positif, simbiosis mutualisme kalau orang bilang, tapi nyatanya simbiosis tak hanya mutualisme, masih ada komensatisme dan parasitisme. Parasitisme, simbiosis yang hanya menguntungkan satu pihak. Egois memang simbiosis macam ini, tapi ini nyata memang ada. Bahkan anehnya beberapa takmenyadari bahwa mereka adalah korban interaksi semacam ini. Saya pun pernah merasakannya.

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa orang yang di-istimewakan ternyata tak balik meng-istimewkan kita, itu sudah cerita lama katanya. Sudah terlalu banyak cerita seperti itu. Klise. Saya bingung harus mulai dari mana, sedikit tentang yang saya alami. Tak hanya sekali saya mengistimewakan orang, perempuan ataupun laki-laki semua yang baik kepada saya pasti saya beri perhatian (bukan perhatian sebagi pacar tentunya).

Contoh nyatanya, ketika saya mempunyai teman dan kita klop, ketika dia membutuhkan bantuan saya akan mengusahakan bagaimana caranya untuk membantunya. Tapi suatu ketika, saya baru menyadari ternyata dia tak suka dengan saya bahkan dia lebih dekat atau perhatian dengan orang yang saya pikir tak sepeduli saya. Tapi anehnya, ketika saya beri dia bantuan, perhatian, ya dia terima-terima saja apa yang saya kasih.

Kejadian lain, ketika saya menganggap kita berteman dekat, di luar saya membanggakan mereka, tapi ternyata mereka saling memberi kabar, curhat, hang-out tanpa saya. Saya seakan diacuhkan. Pernahkan kalian mengalaimnya ? Satu lagi cerita yang saya yakin kalian sering mengalaminya. Ketika kita menanyakan seuatu yang penting kepada seorang teman dan butuh jawaban segera tapi dia tak merespon pertanyaan kita, padahal ketika dia bertanya atau butuh bantuan kalian tak jarang mengusahakan menemani, bahkan membantu menghibur dia. Lalu, kemana dia ketika kita butuh bantuan ? Lenyap. Ditelan bumi mungkin.

Mencari tahu kesalahan siapa ? Itu bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami. Susah. Tak ada yang mengetahui bagian mana yang salah. Semua kembai ke sifat individu. Kalau memag dasarnya baik, ya udah dia akan selalu berbuat baik. Tapi saya bukan orang yang seperti itu, saya juga bisa marah, saya juga bisa merasa dimanfaatin, bayangin aja, udah susah-susah bantuin tapi ternyata cuma zonk yang didapat. Beberapa orang bilang saya bodoh, terlalu baik, terlalu berkorban untuk orang yang ternyata tak mau berkorban balik. Tapi saya selalu mengibaratkan saya yang berada di posisi mereka, yang membutuhkan bantuan, kalau tak ada yang membantu saya pasti kesulitan, saya butuh orang lain, jadi lah saya membantu apa yang mereka butuhkan.

Sekali lagi, semua kembali lagi ke masalah kesadaran. Saya tak menganggap saya orang yang sempurna, saya pun masih punya salah. Karena itulah seharusnya kita saling mengingatkan, saling membantu. Simbiosis mutualisme. Jadi, itulah meng-ISTIMEWA-kan yang ternyata tak selamanya berbuah manis.

“There are some people who could hear you speak a thousand words and still not understand you. And there are others who will understand without you even speaking a word” –noname-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar