Minggu, 31 Agustus 2014

agustus



Setelah Juli sebelum September. Bulan ke delapan kalender masehi. 31 hari. Hingga detik ini di tahun 2014, Agustuslah pemenangnya. Menurut saya. Begitu banyak perisiwa yang terjadi di bulan ini. Ucapah bulan penuh berkah, tetapi juga bulan penuh musibah. Lagi-lagi menurut saya.

Sungguh tanggal 1 yang suram bagi saya kala itu, ketika harus merasakan jarum suntik berkali kali menusuk lengan saya. Dua kali sehari, satu tabung reaksi darah diambil dari lengan sebelah kiri.

“Ini untuk cek darah, diambil pagi dan malam hari”, ujar perempuan berbaju putih pagi itu.

Katanya untuk mencari jawaban dari keluhan saya beberapa hari ini. Pusing, mual, badan panas, lemas tak bertenaga. Saya memang seperti boneka 5 hari sebelum itu, tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana.

Tanggal 1 bulan kedelapan, hari kedua saya berada di ruangan itu. Tembok bercat pink dengan 2 bed untuk tidur. Mereka bilang ini rumah sakit. Ternyata nyamuk itu memang nakal, ia yang menyebabkan saya harus tidur di sini.

“Sudah tau kena DB ?”, seorang perawat bertanya pagi itu.

Bukan bertanya sepertinya, Ia justru memberi kabar.

Dengan muka pucat saya hanya bisa berkata, “Oh, DB ya?”.

“Iya, ini kena DB, trombositnya turun dari pertama masuk. Kalau dihitung dari panas pertama kali, ini masih memasuki fase kritis, kemungkinan malam minggu nanti badan kamu panas lagi, itu masuk ke masa penyembuhan”, jelas sekali perkataan lelaki itu.

Fase kritis. Pikiran saya langsung tak karuan. KRITIS. Saya membayangkan apa yang akan terjadi jika ternyata saya tidak mengalami masa penyembuhan. Benar-benar gelap saat itu. Saya cuma bisa mengangguk tanpa mengerti satu pun perkataan perawat itu kemudian.


Saya ingin menangis, tapi takut ibu tambah khawatir. Perut saya juga tak enak, tak menerima makanan yang masuk. Katanya juga kena thypus. Penyakit yang sering menyerang orang yang terlalu sibuk hingga tak bisa mengatur pola makannya. Beginilah kehidupan seorang mahasiswa di perantauan, dan kebetulan tempat yang saya tinggali tak ada tempat memasak. Makan di luar terus menerus sama saya menimbun penyakit jika tak diimbangi dengan olahraga. Bayangkan saja, setiap makan menunya nasi penyet, nasi goreng, atau nasi rames. Tak sedikit pula penjual yang menggunakan MSG atau minyak yang tak sehat. Minyak, minyak, minyak. Salah satu penyebab radang tenggorokan katanya. Itu pula yang menyerangku bulan ini.

Penyakit ini menghalangi saya, sudah 2 minggu berkas skripsi yang harus direvisi tergeletak di meja kamar. Di saat kawan lain telah bersuka cita mencari tanda tangan pengesahan, saya masih harus sarapan bubur. Di saat mereka mengejar toga, saya masih memegang revisi. Dan di saat mereka telah duduk manis menunggu Oktober, saya masih harus mengejar dosen ke sana kemari. Dan ketika saya menghadiri upacara toga, saya masih belum mengantongi nilai ujian.

Banyak cerita di balik susunan huruf merangkai Agustus. Diawali cerita duka namun ternyata ditutup dengan suka cita. Saya telah menerima tiket menuju Oktober. Suatu perjuangan di bulan ke delapan. Setelah Juli, sebelum September.
Tuhan selalu punya rencana yang jauuh lebih indah dari yang manusia harapkan.

Everything will be okay in the end. If it’s not okay, then it’s not the end.

Aku


Sebuah pesan masuk pagi itu.
Dengan khidmat kubaca kata demi kata diiringi tetesan air mengalir dari sudut mata.
Ucapan itu menghentakku.

“Genap usiamu 22 tahun semoga mendapat perlindungan dan petunjuk dari Allah SWT. Tercapai cita citanya serta sehat selalu dan lebih taqwa yaa”

Oh iya, 22 tahun lalu aku terlahir ke dunia
Dunia yang ternyata tak seindah yang dibayangkan banyak orang
Tapi aku berterima kasih kepada aku 22 tahun lalu
Aku bisa menghirup udara hingga detik ini
Usaha siapa lagi kalau bukan sosok aku 22 tahun lalu?
Hidup ternyata tak semudah membalikkan tangan
Dan tak seindah pelangi setelah hujan
Tapi hidup itu berasa
Manis, asam, juga pahit
Dua angka kembar di tahun 2014
Tak ada makna
Hanya ucapan terima kasih
Dan syukur yang luar biasa kepada sang pencipta
Untaian doa terus menerus terucap hari ini
22 tahun lalu, sesosok aku tercipta
Hingga menjadi aku yang sekarang
Kemudian akan menjadi aku bertahun tahun ke depan

*harusnya ini di post 2 minggu yang lalu..
                                                                                    Semarang, 14 Agustus 2014
                                                                                    Aku

Minggu, 13 Juli 2014

istimewa


Kali ini saya ingin mengangkat tema yang biasa tapi saya yakin sudah banyak yang pernah mengalaminya. Ya... di-ISTIMEWA-kan dan meng-ISTIMEWA-kan. Manusia diciptakan berdampingan satu dengan yang lainnya, saling membutuhkan, saling berinteraksi. Harapannya pasti interaksi yang positif, simbiosis mutualisme kalau orang bilang, tapi nyatanya simbiosis tak hanya mutualisme, masih ada komensatisme dan parasitisme. Parasitisme, simbiosis yang hanya menguntungkan satu pihak. Egois memang simbiosis macam ini, tapi ini nyata memang ada. Bahkan anehnya beberapa takmenyadari bahwa mereka adalah korban interaksi semacam ini. Saya pun pernah merasakannya.

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa orang yang di-istimewakan ternyata tak balik meng-istimewkan kita, itu sudah cerita lama katanya. Sudah terlalu banyak cerita seperti itu. Klise. Saya bingung harus mulai dari mana, sedikit tentang yang saya alami. Tak hanya sekali saya mengistimewakan orang, perempuan ataupun laki-laki semua yang baik kepada saya pasti saya beri perhatian (bukan perhatian sebagi pacar tentunya).

Contoh nyatanya, ketika saya mempunyai teman dan kita klop, ketika dia membutuhkan bantuan saya akan mengusahakan bagaimana caranya untuk membantunya. Tapi suatu ketika, saya baru menyadari ternyata dia tak suka dengan saya bahkan dia lebih dekat atau perhatian dengan orang yang saya pikir tak sepeduli saya. Tapi anehnya, ketika saya beri dia bantuan, perhatian, ya dia terima-terima saja apa yang saya kasih.

Kejadian lain, ketika saya menganggap kita berteman dekat, di luar saya membanggakan mereka, tapi ternyata mereka saling memberi kabar, curhat, hang-out tanpa saya. Saya seakan diacuhkan. Pernahkan kalian mengalaimnya ? Satu lagi cerita yang saya yakin kalian sering mengalaminya. Ketika kita menanyakan seuatu yang penting kepada seorang teman dan butuh jawaban segera tapi dia tak merespon pertanyaan kita, padahal ketika dia bertanya atau butuh bantuan kalian tak jarang mengusahakan menemani, bahkan membantu menghibur dia. Lalu, kemana dia ketika kita butuh bantuan ? Lenyap. Ditelan bumi mungkin.

Mencari tahu kesalahan siapa ? Itu bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami. Susah. Tak ada yang mengetahui bagian mana yang salah. Semua kembai ke sifat individu. Kalau memag dasarnya baik, ya udah dia akan selalu berbuat baik. Tapi saya bukan orang yang seperti itu, saya juga bisa marah, saya juga bisa merasa dimanfaatin, bayangin aja, udah susah-susah bantuin tapi ternyata cuma zonk yang didapat. Beberapa orang bilang saya bodoh, terlalu baik, terlalu berkorban untuk orang yang ternyata tak mau berkorban balik. Tapi saya selalu mengibaratkan saya yang berada di posisi mereka, yang membutuhkan bantuan, kalau tak ada yang membantu saya pasti kesulitan, saya butuh orang lain, jadi lah saya membantu apa yang mereka butuhkan.

Sekali lagi, semua kembali lagi ke masalah kesadaran. Saya tak menganggap saya orang yang sempurna, saya pun masih punya salah. Karena itulah seharusnya kita saling mengingatkan, saling membantu. Simbiosis mutualisme. Jadi, itulah meng-ISTIMEWA-kan yang ternyata tak selamanya berbuah manis.

“There are some people who could hear you speak a thousand words and still not understand you. And there are others who will understand without you even speaking a word” –noname-


Senin, 19 Mei 2014

Review Novel "Surat untuk Ruth"



Surat untuk Ruth

Judul : Surat untuk Ruth
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
April 2014


Saya bukan seorang penulis, juga bukan pembaca yang baik. Saya hanya akan memberikan review dari sudut pandang saya J

Sebuah novel berjudul Surat untuk Ruth yang ditulis Bernard batubara adalah pengembangan buku sebelumnya yang berjudul Milana. Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan seorang Ruth. Siapa Ruth ? Jika sudah membaca Milana pastilah kalian tahu siapa Ruth karena telah dijelaskan dalam buku sebelumnya ( Milana ). Tak jauh dari tema buku – buku Bara sebelumnya, novel ini masih bercerita tentang cinta. Berbekal 168 halaman Bara telah sukses menghipnotis pembaca larut dalam cerita hingga meneteskan air mata.

Yang menarik dari buku tersebut adalah penggambaran kejadian dan suasana. Point of view yang digunakan adalah orang pertama dengan kata ganti “aku”. Pembaca seakan tidak membaca novel, tetapi benar – benar membaca sebuah surat, sebuah memoar. Tidak banyak dialog yang ditampilkan justru narasi yang mendominasi. Tetapi, narasi itulah yang menjadi kelebihan dari novel – novel lain.

Saya akan memulai membahas tentang cerita. Surat ini ditulis oleh seorang bernama Are. Areno Adamar. Seorang pria yang bekerja di Yogyakarta dan memiliki hobi memotret. Kisah mereka diawali dari pertemuan singkat di dek kapal feri yang mengantarkan mereka dari Banyuwangi ke Jembrana. Are memegang kamera dan Ruth mendekap kanvas (dijelaskan dalam buku Milana). Pertemuan singkat namun itu adalah awal dari perjalanan mereka. Ruth dan Are adalah sepasang kekasih yang mencintai dan saat itu pula tidak bisa saling memiliki. Tertulis jelas dalam buku halaman 107. 

“Ironis, Ruth. Kamu berkata ‘Aku sayang kamu’ tepat disaat kamu harus meninggalkanku”. 

Ruth yang dijodohkan oleh ibunya dengan seorang yang tidak dia cintai akhirnya memutuskan melarikan diri tepat di hari pernikahannya. Namun ketika itu pula terjadi kecelakaan feri yang ditumpangi Are dalam perjalanannya dari Bali ke Lombok. Kisah ini berakhir dengan memoar yang Are tulis tentang kisah cintanya. Cuplikan cerita yang tertera di bagian belakang buku benar – benar menjadi senjata yang ampuh untuk menggelitik pembaca.

Cerita yang diangkat memang masih seperti novel – novel yang lain tentang cinta yang tak bisa bersatu, terhalang oleh orang ketiga dan keluarga (perjodohan). Tapi oh tapi yang menjadi pembeda itu gaya bahasa nya, penyampaiannya, pemilihan katanya. Super duper bikin mewek deh kalo baca buku ini. Hehehe :p
Beberapa testimoni pembaca yang saya baca di tab mention penulisnya @benzbara_ mengungkapkan kalau banyak dari mereka yang menangis ketika membaca “surat” ini. Dan saya telah membuktikannya. Saya pun meneteskan air mata bahkan dari bab 9 dan puncaknya di halaman 160. L Bagi saya ending cerita ini gak bisa tertebak, surprise banget lah pokoknya.

Bara sungguh pandai menjelaskan tiap detil kejadian.  Bukan Bara namanya jika tidak memasukkan unsur Yogyakarta. Novel ini pun menampilkan Yogyakarta walau hanya dalam bagian awal. Setting cerita lebih banyak di Bali kemudian Malang dan Surabaya. Bahkan Bali menjadi setting utama cerita Are dan Ruth. Di sana mereka memulai percakapan panjang dan di sana pula mereka harus mengakhiri hubungan mereka.

Untuk pembaca yang jeli, ada satu yang janggal dalam novel ini. Bagaimana bisa seorang Are yang sudah meninggal dapat membuat sebuah memoar yang menceritakan kisah hidupnya sampai bahkan setelah dia meninggal.

Apa saja yang mereka lakukan di Bali ? Bagaimana perjalanan kisah Ruth dan Are ? Bagaimana akhir cinta mereka ? Silahkan baca bukunya. Kalau saya ungkapkan semua gak akan seru dong. Bagi saya membaca sendiri jauh lebih menyenangkan dari pada langsung mengetahui ceritanya. Jadilah saya hanya sedikit menulis review ini, hahahahha *padahal males* :v . Bara, I give you 4 stars. :D

Beberapa kalimat dalam novel yang saya suka adalah :

“Pada satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang”.

“Di saat kita tidak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan”.

“Pemandangan potongan langit biru segar yang terang dan bersih yang terhalau ranting – ranting kurus dari pohon tua. Aku melihatnya seperti keindahan yang bersanding dengan simbol waktu yang diwakili oleh ranting – ranting kering pohon tua itu. Tanda bahwa hanya dengan bersabar, pada akhirnya, kita akan menemukan keindahan. Keindahan yang terhalang oleh waktu”.

“Kesempurnaan terbentuk dari hal – hal yang tidak sempurna”.

“Tidak ada korelasi positif anatara durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan tersebut berakhir”.

Satu lagi yag saya suka, senja, saya suka penggambaran bara tentang senja. Karena saya pribadi juga menyukai senja. Senja itu sementara.

Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara. Bernard Batubara.
NOVELMU KEREEEEEEN !!!!!!!

Bang Bara I love You. Hahahhaha *ditabok pacar* :p

Surat untuk Ruth. Selamat membaca. Selamat kehilangan.

Saya ingin berkenalan dengan Ruth, Ruthefia Milana, perempuan Vixtorinox yang penuh misteri.


Nb :
Sekedar info saya membeli buku ini, bukan, lebih tepatnya dibelikan dan yang membelikan itu beli di Toga Mas Gejayan Yogyakarta *halah ribet tho faay*. Kabar baiknya stok di sana masih banyak sekali jadi yang belom punya silahkan langsung serbu. Sebelumnya tepat tanggal 14 April 2014 (hari peluncuran novel) saya sudah keliling Toga Mas dan Gramedia di Yogyakarta tapi msih belum ada. Beberapa hari setelah itu saya cari di Gunung Agung Paragon Mall Semarang dan masih saja tidak ada. Apalagi di kota asalku Pekalongan, pasti lah tidak ada L




Selasa, 04 Februari 2014

Pengagum Malam


Aku mencintai malam
Dengan segala lekukan indahnya
Dengan dingin pelukan yang ia beri
Ia menyimpan perapian di sudut waktu yang tak tau arah
Bara itu menghangatkan namun tak sekali mendinginkan

Aku mengagumi malam
Dengan hamparan luas permata yang berpendar
Dengan bohlam yang menyala di tiap sisi

Aku lebih mencintai malam
Di saat yang lain menyanjung siang

“Tak ada matahari di kala malam. Mataharilah yang menerangi bumi” ujar pengagum siang.

“Siapa bilang matahari tak muncul ? Dia tetap ada, namun ia terlalu malu untuk menampakkan diri. Dia hanya mampu membiaskan cahayanya lewat bulan. Ia menpercayakan segalanya kepada bulan” sanggahku.

Itu juga alasanku mencintai malam
Meski kecil, bulanlah yang bertanggung jawab kepada kami, manusia bumi yang hanya sebesar debu berterbangan.

“Malam tak seterang siang, malam tetap gelap” pasukan siang tetap saja mencela.

“Apa kau bisa menyalakan lampion di siang hari ? Itulah guna gelap yang malam punya. Agar aku yang tak bahagia ini tersenyum melihat remang lampion”

“Tapi malam tetap gelap. Hitam. Tidak cerah seperti siang”

“Gelap ? Hitam ? kamu hanya perlu menyulut kembang api agar berwarna. Justru lebih indah bukan ? mengembangkan senyum untuk semua. Membuat anak kecil bersorak mengagumi coraknya”.

“Tapi malam tetap gelap, masih saja menakutkan”

“Ya, malam memang masih gelap. Terkadang menggalaukan. Tapi di ujung malam sana, akan ada asa ketika matahari tak lagi malu dalam bersembunyi. Ketika bulan telah usai menjalankan tugasnya, perlahan kehangatan akan menggantikan kedinginan. Dan harapan memudarkan kerisauan. Cahaya di ujung malam itu semakin dekat mengembangkan senyum suka cita. Itulah yang kamu sebut pagi”

Malam hanya sebuah fase
Perjalanan menuju kemenangan
Malam itu gelap
Gelap yang merintis terang

Aku mencintai malam
Dengan segala rahasia yang ia pendam

 Night from Weh Island-Taken from Jalan-Jalan Men Eps Pulau Weh


Good Morning Moko - Taken from Jalan - Jalan Men Eps Bandung


Senin, 27 Januari 2014

Bukan Penyerahan Diri


Kosong itu ketika sebuah wadah yang terisi penuh namun harus tumpah dan tak bersisa.

Tenang itu ketika kau dihujani tembakan namun seketika musuh menyerah dan mundur.

Mundur ???

Tidak !

Aku tak boleh seperti mereka.

Aku tak boleh mundur.

Meskipun satu langkah.

Bisa saja mereka menembakku lagi.

Lalu apa yang harus aku lakukan ?

Aku tak punya senjata.

Aku hanya membawa diriku.

Nyata Tapi Tak Ada


Bagaimana bisa dibilang salah jika kebenaran yang sesungguhnya pun tak diketahui.

Bagaimana bisa menilai jika target pun tak terpegang.

Dan bagaimana bisa mengeluh jika kesempatan pun tak punya.

Ketika tak ada satupun yang menyentuh tangan apa yang bisa digenggam ?

Hanya udara, angin, dan debu yang tak punya apa.

Mereka banyak namun tak bisa kau genggam.

Mereka menempati ruang tapi tak terlihat.

Jatuh Cinta (II)


Terkadang manusia perlu lari dari masalah. Agar tak terlalu penuh dunia ini dengan orang – orang berotak miring.

Tak jarang dalam pelarian itu aku berkali – kali menangis. Sekedar melepas emosi rasaku. Tak selalu juga curahan terbuang di tempat yang sama.

Tempat yang nyaman untuk sekedar membasahi mata, tempat yang sejuk ketika hati dipenuhi nyala api, lalu tempat yang pantas untuk mendinginkan bara yang mulai padam, serta tempat indah tuk sekedar menatap kemudian.

Aku lebih suka di sini. Sudah tak hanya sekali aku menikmati pelarian ini. Tak perlu menyibukkan diri kemudian berfoya, cukup dan hanya perlu mengunjungi tempat ini. Entah di mana saja dan bersama siapa saja dan bahkan sendiri pun aku tak apa. 

Hanya berkunjung kataku. Membasahi mata, membebaskan api, memadamkan bara, alu menatap langit.

Langit di sini indah, seperti memiliki ilmu magis yang menarikku ke dalam lembutnya awan. Begitupun orang sekelilingku. Terkadang aku hanya diam dan bahagia memandang mereka dengan hiruk pikuknya. Aku tersenyum, seakan bebanku terbunuh di serang mereka dari kota ini, entah di sudut mana favoritku. Kurasa semua tak terkecuali.

Sering ku berlari ke sini. Terlalu banyak kenangan begitupun harapan yang kuucap di tempat ini. Biasanya diselingi rintikan entah hujan atau air mataku.

Sungguh terlalu berkesan. Tak salah jika semua orang mengagumi tempat ini hingga melabelkan daerah istimewa di depan namaya.

Dan Jogjakarta, aku jatuh cinta J

Jogjakarta, 20 Desember 2013
11.05 p.m
Tugu, Jogjakarta, 22 Oktober 2013