Setelah
Juli sebelum September. Bulan ke delapan kalender masehi. 31 hari. Hingga detik
ini di tahun 2014, Agustuslah pemenangnya. Menurut saya. Begitu banyak perisiwa
yang terjadi di bulan ini. Ucapah bulan penuh berkah, tetapi juga bulan penuh
musibah. Lagi-lagi menurut saya.
Sungguh
tanggal 1 yang suram bagi saya kala itu, ketika harus merasakan jarum suntik
berkali kali menusuk lengan saya. Dua kali sehari, satu tabung reaksi darah
diambil dari lengan sebelah kiri.
“Ini
untuk cek darah, diambil pagi dan malam hari”, ujar perempuan berbaju putih
pagi itu.
Katanya
untuk mencari jawaban dari keluhan saya beberapa hari ini. Pusing, mual, badan
panas, lemas tak bertenaga. Saya memang seperti boneka 5 hari sebelum itu, tak
bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana.
Tanggal
1 bulan kedelapan, hari kedua saya berada di ruangan itu. Tembok bercat pink dengan 2 bed untuk tidur. Mereka bilang ini rumah sakit. Ternyata nyamuk itu
memang nakal, ia yang menyebabkan saya harus tidur di sini.
“Sudah
tau kena DB ?”, seorang perawat bertanya pagi itu.
Bukan
bertanya sepertinya, Ia justru memberi kabar.
Dengan
muka pucat saya hanya bisa berkata, “Oh, DB ya?”.
“Iya,
ini kena DB, trombositnya turun dari pertama masuk. Kalau dihitung dari panas
pertama kali, ini masih memasuki fase kritis, kemungkinan malam minggu nanti
badan kamu panas lagi, itu masuk ke masa penyembuhan”, jelas sekali perkataan
lelaki itu.
Fase
kritis. Pikiran saya langsung tak karuan. KRITIS. Saya membayangkan apa yang
akan terjadi jika ternyata saya tidak mengalami masa penyembuhan. Benar-benar
gelap saat itu. Saya cuma bisa mengangguk tanpa mengerti satu pun perkataan
perawat itu kemudian.
Saya
ingin menangis, tapi takut ibu tambah khawatir. Perut saya juga tak enak, tak
menerima makanan yang masuk. Katanya juga kena thypus. Penyakit yang sering menyerang orang yang terlalu sibuk
hingga tak bisa mengatur pola makannya. Beginilah kehidupan seorang mahasiswa
di perantauan, dan kebetulan tempat yang saya tinggali tak ada tempat memasak.
Makan di luar terus menerus sama saya menimbun penyakit jika tak diimbangi
dengan olahraga. Bayangkan saja, setiap makan menunya nasi penyet, nasi goreng,
atau nasi rames. Tak sedikit pula penjual yang menggunakan MSG atau minyak yang
tak sehat. Minyak, minyak, minyak. Salah satu penyebab radang tenggorokan
katanya. Itu pula yang menyerangku bulan ini.
Penyakit
ini menghalangi saya, sudah 2 minggu berkas skripsi yang harus direvisi
tergeletak di meja kamar. Di saat kawan lain telah bersuka cita mencari tanda
tangan pengesahan, saya masih harus sarapan bubur. Di saat mereka mengejar
toga, saya masih memegang revisi. Dan di saat mereka telah duduk manis menunggu
Oktober, saya masih harus mengejar dosen ke sana kemari. Dan ketika saya
menghadiri upacara toga, saya masih belum mengantongi nilai ujian.
Banyak
cerita di balik susunan huruf merangkai Agustus. Diawali cerita duka namun
ternyata ditutup dengan suka cita. Saya telah menerima tiket menuju Oktober.
Suatu perjuangan di bulan ke delapan. Setelah Juli, sebelum September.
Tuhan
selalu punya rencana yang jauuh lebih indah dari yang manusia harapkan.
Everything will be
okay in the end. If it’s not okay, then it’s not the end.





