Jumat, 27 Desember 2013

Potret Fajar


Petang tadi aku keluar rumah dan menikmati langit bertabur bintang di langit yang cerah. Bulan biru bulat penuh menerangi pagi yang masih terlalu malam. Kupejamkan mata menatap langit membayangkan dalam genggamanku. Ahhhh, andai saja cahaya terang itu bisa kuraih.

Perjalanan ini menuju langit tapi tak pernah bisa menyentuhnya, sepertimu yang selalu dalam jalanku namun tak bisa terlampaui. Semua ini tak lepas dari langit, begitupun saat ini.

Ketika kulihat perpaduan jingga dan biru di langit horison. Banyak yang mengabadikan gambar namun di sini aku tak beranjak. Aku hanya memandang dan menikmati langit tentu saja dengan terus mengawasimu itu pun dari kejauhan. Tak ada keberanian tuk menyentuhmu, hanya melihat sungguh hanya memandang.

Di sini di atas awan, kulihat jelas wajahmu memandang langit menatap surya yang menerangi gelap. Sebentar lagi bola jingga itu akan semakin naik, menghangatkan kami di sini. Namun akankah bisa menghangatkan kita ?

Yang kurasa hanya dingin yang bercampur panas ketika kusadari aku takberdaya bersamamu. Hanya melihat, menikmati pagi ini tanpa kudapat potret kita dengan manis. Banyak yang mengabadikan moment ini, tapi buatku, mengabadikanmu lewat potret hati sudah cukup menyenangkan. Ku potret dirimu berkali – kali tentu saja tanpa kau sadari. Ku hanya tersenyum melihatmu dan terisak ketika sebentar lagi harus berakhir.

Bola pijar itu telah segaris dengan mata, berakhir sudah kebahagiaanku melihatmu.

Moment pagi ini berakhir, potretmu masih tersimpan di sini, dalam organ kecil berwarna merah tua yang diberi nama hati.

(bukan) Fatamorgana


Tak perlu kuceritakan pada malam, karena malam telah lebih dulu mendinginkan. Tak perlu kuberbisik pada angin karena angin telah menerbangkan rasa ini.
Dan tak perlu kuungkapkan padamu karena kau pun pasti telah mendengar desirnya.

Maka aku pun membisu, mendengarkan kicauanmu dan cukup menikmati polahmu.
Di mataku, ujung ini layaknya fatarmorgana,
melegakan dahaga yang tak bisa kuraih lebih dekat.

Detak waktu terhenti ketika kau bisikkan “ Ini bukan – fatamorgana - , bangunlah, kau tak benar – benar (pernah) melihat air itu.
Itu hanya ada dalam benakmu yang aku pun tak pernah menuntunmu mengambilnya”. 

DEGG !!!
Bagaikan petir yang menampar pipiku.
Aku hanya menelan ludah tanpa berani menatapmu.
Pipi ini masih dingin dan makin dingin oleh belatimu. 
Kau mencegahku tuk mencairkan atau bahkan hanya sekedar menghangatkan.

Beku ini mengerangkengku, massa jenisku bertambah hingga menenggelamkanku ke dasar.
Sungguh dasar, membawaku kembali memutar rangkaian peristiwa hingga mengantarku dalam sususnan huruf bertuliskan “ aku takut (lagi)”

Jatuh Cinta


Sebuah sudut tak berujung
Berisikan titik
Menjelaskan makna.

Dalam garis lurus yang hiruk pikuk.
Berawal dari seorang paruh baya mengayuh pedal,
dan kuda dengan kusir nya.

Sebuah taman,
ada juga genangan air hijau bening.

Susunan kayu berbentuk persegi
dengan tiang di tiap sisi.
Tanah lapang dengan pohon rimbun di jantungnya

Sebuah gerai,
kue seperti bantal bulat bertabur salju dan berpuncak coklat
Satu gelas, beratap busa, bergambar hati yang hangat.

Kedai,
Besar atau pun kecil tak masalah,
Yang penting menghangatkan juga menyehatkan
Tentu saja beraroma, manis

Ice cream,
Mereka menyebutnya Artemy

Seorang lelaki berpakaian jawa
Menyajikan makanan
Katanya Raminten.

Malam hingga pagi.
Pahit sampai manis.

Ahhh....
Jogjakarta...
Aku jatuh cinta.

Bulan yang Bercerita



Aku menulis ini di sebuah acara. Tak sengaja. Jariku hanya mengikuti alunan hati. Bernard Batubara di depan ku, bercerita banyak tentang menulis. Mungkin jemariku tak mau kalah, ia terpacu cerita Bara. Begitu pun pikiran. Hanya ingin bercerita. Berawal dari bulan....

Desember, ku jumpa lagi denganmu. Bulan yang tak istimewa dan tidak juga terabaikan. Kutemukan lagi dirimu, Desember. Dengan iringan hujan di hari – harimu. Bau tanah basah yang menyengat hidungku. Seperti hari ini, ketika tanah tak lagi kering kucium genangan air menggenang di kakiku. Di sini, di bulan Desember. Setelah November dan sebelum januari. Tak ada yang istimewa di dirimu. Hanya natal yang setia dengan angka 25. Dan kembang api yang selalu bersinar di ujung malammu. Desemeber tak istimewa dan aku oun tak mengistimewakan. Justru kau yang menarikku dan mengikatku dengan ceritamu. Tapi aku tak mengabaikanmu, Desember. Air masih menyelimuti daun yang bergoyang ketika aku kutemukan kotak di ujung ruangan. Aku ingat kotak itu. Kotak milikmu Desember. Aku tak pernah mengabaikanmu. Desember, kau mengikatku, membuatku takut bertemu denganmu. Karena kau telah menariknya. menarik dia yang kucinta lantas kau antarkan dia ke dalam pelukanNYa. Aku takut bertemu denganmu karena akan terbuka luka kehilangan ini. Aku tak mengistimewakanmu Desember dan tak pula mengabaikanmu. Kau hanya ada di antaranya.

Jumat, 13 Desember 2013

Kenalan dulu yuk.. :)


Oke, well namaku Ulfa Pandu Dewanti. Udah lama sebenernya aku bikin blog ini. Tapi, gak pernah keurus. Cuma setahun kemarin aja aku sering ngeblog itu pun karena aku ada kuliah di lab komputer yang wi – fi nya on terus. Hahhaha minta nya yang gratisan. Maklum udah segede gini aku gak punya modem, kalo ada yang mau beliin aku masih nerima kok.. halah #modus .hheheh :p ehh kok sampe modem, kan tadi lagi kenalan. Yaaak nama aku Ulfa Pandu Dewanti aku lahir 21 tahun lalu di kota batik. Sekarang aku tinggal (sementara) di Semarang seperti anak kuliahan yang lain, merantau katanya. Udahlah gak usah kelamaan, apa yang mau aku tulis kali ini. Jeng jeng..... KIMIA. 
Aku mau nulis tentang Kimia, lebih tepatnya Aku dan Kimia. kenapa aku mau nulis kimia. Itu karena ada ornag yang menginspirasiku buat nulis ini. Sedikit flashback.
Kemarin minggu 8 Desember 2013 di LPPU Undip aku ikut Seminar Nasional Jurnalistik dan Kepenulisan dengan pembicara Setiawan Hendra as Kepred Suara Merdeka, Aiman Witjaksono as News Anchor and Bernard Batubara penulis muda. Nah, salah satu speaker itu mengatakan “Mulailah menulis dg hal yang paling dekat denganmu”. Dia mencontohkan “Tulislah tentang komunikasi jika kau adalah mahasiswa komunikasi”. Dari situlah aku punya ide buat nulis tentang kimia. Yaah itung - itung ini mengawali postingan blogku yang kebanyakan soal puisi. Kenapa kimia ? ya karena aku mahasiswa kimia J
Kenapa harus kimia ? padahal banyak orang yang takut sama kimia. Yaah itu cerita panjang sepanjang jalur kereta semarang – jogjakarta. Jadi gini ceritanya, ehem, sebenernya aku gak mau masuk kimia apalagi keguruan. Jurusan yang akan menjadikan kita sebgai guru, pengajar. Awalnya, aku pengen kuliah di jurusan Teknik Geologi dan maunya di Jogja. Tapi ternyata banyak penghalangnya. Yaapp, orang tua adalah penghalang terbesar. Lalu kakak, lalu biaya, lalu,, ahh terlalu panjang ceramahnya. Pokoknya harus keguruan dan itu harus ilmu eksak kalo enggak ya keguruan dg mata pelajaran bahasa inggris. Hmmm, apa sih yang ada di benak kalian kalo dihadepin pilihan matematia, fisika, dan kimia ? otakku blong waktu itu, tapi langsung aja aku bilang. “Aku mau Kiimia aja”. Yah, itu bukan tanpa alasan. Justru karena banyak alasan. Pertama aku gak suka matematika, bahkan aku pernah ikut remidial matematika TIGA KALI gara – gara gak pernah nyampai standar nilai. L mengenaskan. Alasan kedua, karena aku gak suka fisika, aku gak bisa dan gak kuat dengan rumus fisika yang menurut aku terlalu banyak pake bangett *dobel t*. Dan pilihan terakhir Cuma kimia, dan Cuma nilai kimia yang bagus, so jadilah aku mendaftar di jurusan Pendidikan Kimia Universitas negeri Semarang. Dan jeng jengg, aku ketrima setelah aku ikut tes masuk nya dg mengalahkan 3333 orang,.hahhahhaa *ini aku ngarang* :p . dan setelah itu aku gak daftar universitas selain unnes kayak temen – temen lain yg sibuk ikut SNMPTN waktu itu. Sudah cukup kata ibu, udah jalani aja kata beliau. Ya udah deh, mau di kata apa akhirnya aku resmi jadi mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Negeri Semarang pada tanggal 18 Agustus 2010 (hari pertama ospek).
Oyaa, ada pengalaman lucu aku sama kimia waktu SMA dulu. Sejak kelas X aku udah suka sama kimia, bahkan dari SMP aku udh tertarik. Pas SMA guru aku disiplin banget, namanya ibu Suhartiningsih. Aku suka cara ngajarnya, disiplinnya, kata temen – temen sih galak (semoga anaknya gak baca postingan ini).  Tapi aku suka kok. Justru dia yang menginspirasi aku, membuat aku jatuh cinta sama kimia dibanding fisika L . well, kelas XI nilai kimia ku terus aja naik atau stabil tapi gak pernah remidi, hehehhe J . tapi semua itu gak berjalan mulus kayak kulit bayi. Semua berbalik 180 derajat gak pake celsius di kelas XII. Calon nilai kimia ku jelek dan harus remidi biar di raport gak jadi merah. Waktu itu aku dapet nilai 61 dan itu bikin aku stress, serius aku sampe nangis di kelas. Mulai saat itu aku udh gak suka sama kimia, sebel ! sebelku berhenti di seiring berjalannya waktu. Gara – gara nilai jelek itu, aku makin rajin belajar kimia *eciyeeee* :p mungkin juga aku udah nemu caraku dan hatiku di kimia, sesebelnya aku tetep suka kimia daripada fisika apalagi matematika.
Oke kembali lagi ke masa sekarang,  sampai saat ini detik ini aku adalah mahasiswa kimia. And i proud to be chemist. J di masa kuliah ini aku makin suka dengan kimia, makin nyaman aja rasanya, gak ada halangan. Walau puuun, di beberapa mata kuliah tetep aja aku terseok seok, Kimia Fisika (lagi – lagi fisika). Jiwa kimiawan itu mulai muncul, walaupun (lagi) gak sebesar mereka yang benar – benar bisa. Aku Cuma pas – pas an gk lebih gak kurang, yang penting aku nyaman. Passion is not what you are good at , it’s what you enjoy the most. That’s enough for me. Dan akhirnya aku sampai di titik ini, semester tujuh, yang artinya skripsi udah ada di depan mataku. Gak kerasa udah 3,5 tahun aku bergelut dengan kimia, and i love it J
Aku gak akan pernah jadi aku yang sekarang tanpa guru – guruku, tanpai nilai merahku, tanpa orang tua yang ‘memaksa’ aku. I love them, i wanna say thank you.
Untuk guruku alm. Bpk. Santoso , guru IPA SMP 1 Pekalongan yang mengenalkanku kimia pertama kali.
Untuk ibu Sri Suhartiningsih, guru Kimia SMA N 1 Pekalongan *waktu aku kelas X* yang mengajarkanku akan kedisiplinan.
Untuk Bpk. Afghoni , guru kimia SMA N 1 pekalongan *kelas XI* yang membuatku lebih nyaman dan jatuh cinta dengan kimia.
Untuk Bpk. Fahmi, guru kimia SMA N 1 Pekalongan *kelas XII* yang mengajarkanku untuk bangkit dari nilai 61 .
Untuk ayah di surga sana yang selalu menyemangatiku belajar (dulu).
Untuk ibu atas support nya selama ini.
Karena kalian aku JATUH CINTA  DG KIMIA J