Jumat, 27 Desember 2013

(bukan) Fatamorgana


Tak perlu kuceritakan pada malam, karena malam telah lebih dulu mendinginkan. Tak perlu kuberbisik pada angin karena angin telah menerbangkan rasa ini.
Dan tak perlu kuungkapkan padamu karena kau pun pasti telah mendengar desirnya.

Maka aku pun membisu, mendengarkan kicauanmu dan cukup menikmati polahmu.
Di mataku, ujung ini layaknya fatarmorgana,
melegakan dahaga yang tak bisa kuraih lebih dekat.

Detak waktu terhenti ketika kau bisikkan “ Ini bukan – fatamorgana - , bangunlah, kau tak benar – benar (pernah) melihat air itu.
Itu hanya ada dalam benakmu yang aku pun tak pernah menuntunmu mengambilnya”. 

DEGG !!!
Bagaikan petir yang menampar pipiku.
Aku hanya menelan ludah tanpa berani menatapmu.
Pipi ini masih dingin dan makin dingin oleh belatimu. 
Kau mencegahku tuk mencairkan atau bahkan hanya sekedar menghangatkan.

Beku ini mengerangkengku, massa jenisku bertambah hingga menenggelamkanku ke dasar.
Sungguh dasar, membawaku kembali memutar rangkaian peristiwa hingga mengantarku dalam sususnan huruf bertuliskan “ aku takut (lagi)”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar