Tak perlu kuceritakan pada malam, karena malam telah lebih dulu
mendinginkan. Tak perlu kuberbisik pada angin karena angin telah menerbangkan
rasa ini.
Dan tak perlu kuungkapkan padamu karena kau pun pasti telah mendengar
desirnya.
Maka aku pun membisu, mendengarkan kicauanmu dan cukup menikmati
polahmu.
Di mataku, ujung ini layaknya fatarmorgana,
melegakan dahaga yang tak
bisa kuraih lebih dekat.
Detak waktu terhenti ketika kau bisikkan “ Ini bukan –
fatamorgana - , bangunlah, kau tak benar – benar (pernah) melihat air itu.
Itu
hanya ada dalam benakmu yang aku pun tak pernah menuntunmu mengambilnya”.
DEGG
!!!
Bagaikan petir yang menampar pipiku.
Aku hanya menelan ludah tanpa berani
menatapmu.
Pipi ini masih dingin dan makin dingin oleh belatimu.
Kau mencegahku
tuk mencairkan atau bahkan hanya sekedar menghangatkan.
Beku ini
mengerangkengku, massa jenisku bertambah hingga menenggelamkanku ke dasar.
Sungguh dasar, membawaku kembali memutar rangkaian peristiwa hingga mengantarku
dalam sususnan huruf bertuliskan “ aku takut (lagi)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar