Petang tadi aku keluar rumah dan menikmati langit bertabur bintang di
langit yang cerah. Bulan biru bulat penuh menerangi pagi yang masih terlalu
malam. Kupejamkan mata menatap langit membayangkan dalam genggamanku. Ahhhh,
andai saja cahaya terang itu bisa kuraih.
Perjalanan ini menuju langit tapi tak
pernah bisa menyentuhnya, sepertimu yang selalu dalam jalanku namun tak bisa
terlampaui. Semua ini tak lepas dari langit, begitupun saat ini.
Ketika kulihat
perpaduan jingga dan biru di langit horison. Banyak yang mengabadikan gambar
namun di sini aku tak beranjak. Aku hanya memandang dan menikmati langit tentu
saja dengan terus mengawasimu itu pun dari kejauhan. Tak ada keberanian tuk
menyentuhmu, hanya melihat sungguh hanya memandang.
Di sini di atas awan,
kulihat jelas wajahmu memandang langit menatap surya yang menerangi gelap.
Sebentar lagi bola jingga itu akan semakin naik, menghangatkan kami di sini.
Namun akankah bisa menghangatkan kita ?
Yang kurasa hanya dingin yang bercampur
panas ketika kusadari aku takberdaya bersamamu. Hanya melihat, menikmati pagi
ini tanpa kudapat potret kita dengan manis. Banyak yang mengabadikan moment
ini, tapi buatku, mengabadikanmu lewat potret hati sudah cukup menyenangkan. Ku
potret dirimu berkali – kali tentu saja tanpa kau sadari. Ku hanya tersenyum
melihatmu dan terisak ketika sebentar lagi harus berakhir.
Bola pijar itu telah
segaris dengan mata, berakhir sudah kebahagiaanku melihatmu.
Moment pagi ini
berakhir, potretmu masih tersimpan di sini, dalam organ kecil berwarna merah
tua yang diberi nama hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar