Aku menulis ini di sebuah acara. Tak sengaja. Jariku hanya mengikuti alunan
hati. Bernard Batubara di depan ku, bercerita banyak tentang menulis. Mungkin jemariku
tak mau kalah, ia terpacu cerita Bara. Begitu pun pikiran. Hanya ingin
bercerita. Berawal dari bulan....
Desember, ku jumpa lagi denganmu. Bulan yang tak istimewa dan tidak juga
terabaikan. Kutemukan lagi dirimu, Desember. Dengan iringan hujan di hari –
harimu. Bau tanah basah yang menyengat hidungku. Seperti hari ini, ketika tanah
tak lagi kering kucium genangan air menggenang di kakiku. Di sini, di bulan
Desember. Setelah November dan sebelum januari. Tak ada yang istimewa di
dirimu. Hanya natal yang setia dengan angka 25. Dan kembang api yang selalu
bersinar di ujung malammu. Desemeber tak istimewa dan aku oun tak
mengistimewakan. Justru kau yang menarikku dan mengikatku dengan ceritamu. Tapi
aku tak mengabaikanmu, Desember. Air masih menyelimuti daun yang bergoyang
ketika aku kutemukan kotak di ujung ruangan. Aku ingat kotak itu. Kotak milikmu
Desember. Aku tak pernah mengabaikanmu. Desember, kau mengikatku, membuatku
takut bertemu denganmu. Karena kau telah menariknya. menarik dia yang kucinta
lantas kau antarkan dia ke dalam pelukanNYa. Aku takut bertemu denganmu karena
akan terbuka luka kehilangan ini. Aku tak mengistimewakanmu Desember dan tak
pula mengabaikanmu. Kau hanya ada di antaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar